
2026|Rust Dyeing Pada Katun, Dakron|Dimensi Bervariasi
Objek-objek ini merupakan momen, tempat, ruang konfrontasi dimana artikulasi ambigu tidak menyerah pada kebenaran langsung terhadap subjektivitas melewati persepsi sensorik intuisi dan arketipe. Objek-objek lanskap dikotomi internal/eksternal dan berupaya mencari kesadaran dan rasionalitas yang tak berujung. "Bayangan Yang Berlari", berakar pada waktu merefleksikan kondisi manusia di dunia kontemporer yang penuh gejolak dan ketidakpastian, hubungan antara subjektivitas dan dunia dikonfigurasikan dalam mencapai dematerialisasi yang diproyeksikan dari alam bawah sadar atau sebagai getaran spiritual yang mendasari visualisasi dalam instalasi ini serta upaya untuk membangkitkan dimensi material, kehidupan dan identitas dengan proses oksidasi karat besi (rust dyeing), abstraksi dan perwujudan objek taktil, refleksi yang menyadari keniscayaan alam organik, fluktuasi bersamaan dengan pertumbuhan dan peluruhan proses alam itu sendiri.
Meta Enjelita menyelesaikan pendidikan di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan Kriya Tekstil pada 2018. Praktik artistiknya berfokus pada tekstil, batik, dan mode, dengan perhatian pada materialitas, ekologi, ingatan, serta relasi manusia dengan lingkungan. Ia mengeksplorasi pewarnaan alami (eco-dyeing), korosi besi (rust-dyeing) sejak 2017, dan soil dyeing. Tekstil menjadi medium untuk memetakan pengalaman melalui jarum dan benang, sekaligus membentuk abstraksi yang terinspirasi oleh pertumbuhan, perubahan, dan pembusukan alam. Meta telah mengikuti berbagai pameran kelompok di Indonesia dan internasional. Karyanya antara lain dipamerkan dalam METAMORPHOSIS di Cuturi Gallery, Singapura (2026); YOUR CAMERA STILL SUCKS di Unicorn Gallery, Surabaya (2026); A World of Seams and Seamlessness di CULT Gallery, Kuala Lumpur (2025); Contemporary Indonesian Sculpture from the Confir Kabo Collection: Ebb and Flow di Art Gallery of Ballarat, Australia (2024); The Language of Craft in Contemporary Art Southeast Asia: IOTA24 di Kuala Lumpur (2024); Biennale Jogja XVI Equator #6: Roots Routes (2021); ARTJOG 2025; Yogyakarta International Creative Art (YICAF); Jogja Street Sculpture Project #3 (2019); serta berbagai pameran di Sangkring Art Space, Pendhapa Art Space, Jogja National Museum, Taman Budaya Yogyakarta, dan Jogja Gallery. Meta menerima Best Artworks in Matra Award: Dimension X Resonance (2018), serta Best Artwork of Expression dan Best Innovative Artwork pada Kriya Award #3 (2016).