
2026|Akrilik di Atas Kanvas|Ø 200 × 14 cm
Karya ini menyoroti bagaimana derasnya arus informasi digital melalui gawai telah mengaburkan batas antara fakta dan fiksi, menciptakan sebuah kondisi yang oleh filsuf Jean Baudrillard disebut sebagai hiperrealitas. Dalam era ini, citra atau salinan yang direkayasa (simulacrum) justru dianggap lebih "nyata" dan menggantikan realitas aslinya (seperti pada kasus foto berfilter di media sosial atau algoritma pasar saham). Dampak dari kondisi hiperrealitas ini antara lain adalah masyarakat semakin sulit menemukan pengalaman atau makna yang benar-benar asli karena banyaknya hal yang terasa direkayasa. Orang-orang juga cenderung mudah menerima citra buatan tanpa mempertanyakan kebenaran di baliknya. Persona daring dan ruang virtual mulai menggantikan koneksi serta interaksi antar manusia di dunia nyata. Menghadapi pusaran dahsyat hiperrealitas memang tidak mudah, apalagi karena gawai telah menjadi pusat poros kehidupan sehari-hari kita. Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar apa yang harus kita lakukan, melainkan: seberapa besar keberanian kita untuk melepaskan diri dari kenyamanan simulasi digital demi menemukan kembali realitas yang sesungguhnya? Semoga karya ini bisa jadi pengingat kecil, atau justru jadi pemicu keberanian itu!
Indieguerillas adalah duo seniman kontemporer yang terdiri atas pasangan Dyatmiko Lancur Bawono dan Santi Ariestyowanti. Latar belakang Dyatmiko di bidang Desain Interior dan Santi di bidang Desain Komunikasi Visual, keduanya lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, membentuk pendekatan artistik yang memadukan sensitivitas desain, eksperimen lintas media, dan eksplorasi teknologi visual. Karya-karya mereka dikenal melalui perpaduan yang khas antara folklor Nusantara, mitologi, budaya populer, dan isu-isu kontemporer, menghadirkan narasi yang jenaka sekaligus kritis mengenai identitas, tradisi, dan perubahan sosial. Indieguerillas membangun reputasi internasional melalui berbagai pameran tunggal di Singapura, Jepang, Indonesia, dan Australia, termasuk Cosmic Waltz di Mizuma Art Gallery Tokyo (2021), D di Mizuma Gallery Singapore (2023), serta sejumlah proyek komisi berskala besar untuk HERMÈS, National Gallery of Australia, Pacific Place Jakarta, Facebook, GOJEK, dan Angkasa Pura II. Mereka juga aktif berpartisipasi dalam berbagai biennale dan pameran internasional seperti World Expo Osaka 2025, ARTJOG, Venice Biennale (Future Pass – From Asia to the World), Guangzhou Triennial, Animamix Biennial, CP Biennale, dan Biennale Jogja. Karya mereka menjadi bagian dari koleksi institusi penting, antara lain Singapore Art Museum, Guangdong Museum of Art, Fukutake House, OHD Museum, dan Tumurun Museum. Beberapa residencies yang pernah mereka ikuti berlangsung di Jerman, Seoul, Yogyakarta dan Den Haag, Belanda.