
2026|Objek dan Akrilik pada Panel Kayu|Ø 145 x 15 cm
Saya tidak hanya tertarik pada bunga sebagai simbol keindahan. Saya tertarik pada tanaman sebagai bentuk kehidupan yang diam, namun terus bergerak-tumbuh, mencari ruang, dan perlahan melampaui batas yang dibangun manusia. Dalam karya ini, bidang kanvas lingkaran saya bayangkan sebagai sebuah field tempat gerakan tersebut berlangsung; bentuk-bentuk organik muncul, berkelompok, bertumpuk, dan menyebar seolah memiliki kecenderungan tumbuhnya sendiri. Impasto tiga dimensional menjadi bagian penting dari proses tersebut. Cat tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai medium untuk menggambarkan sesuatu, tetapi menjadi material yang memiliki tubuh fisik dan volume. Teknik piping/frosting memungkinkan cat ditekan, dikeluarkan, ditumpuk, dan diarahkan menjadi bentuk-bentuk yang menyerupai kelopak, tunas, atau jaringan organisme. Teknik yang pada dasarnya sangat terkontrol tersebut justru menghasilkan kemungkinan gerak yang terasa organik antara gestur yang disengaja dan bentuk yang muncul secara spontan. Dengan demikian, karya ini bukan sekadar tentang menggambarkan pertumbuhan, tetapi tentang membuat pertumbuhan terasa hadir melalui material lukisan itu sendiri. Setiap sapuan, tumpukan, cipratan, dan bentuk tiga dimensi menjadi jejak dari sebuah proses yang berada di antara keteraturan dan ketakteraturan, kontrol dan spontanitas. Gestures of Growth adalah upaya untuk bernegosiasi dengan sesuatu yang hidup: mengaturnya tanpa sepenuhnya mampu mengendalikannya, dan membiarkan material lukisan perlahan menemukan arah tumbuhnya sendiri.
Melalui pendekatan abstrak Muhammad Reggie Aquara mengeksplorasi tekstur, materialitas, dan gestur. Ia menempuh pendidikan seni rupa di Institute Teknologi Bandung, dan lulus pada tahun 2006 dari studio seni lukis. Dalam praktiknya, Reggie mengembangkan bahasa visual yang berangkat dari eksplorasi “mark making” dan teknik impasto, menghadirkan permukaan lukisan yang padat, berlapis, dan tak jarang bersifat taktil. Karyanya sering memadukan sensibilitas abstraksi dengan pendekatan material yang eksperimental, termasuk ketertarikan pada kualitas “frosting” atau lapisan yang mengingatkan pada dekorasi objek sehari-hari. Pada 2025, karya-karyanya dipresentasikan dalam sejumlah pameran, antara lain Art Jakarta, ADU MANIS di Komunitas Salihara bersama Artsociates, ARTSUBS: Material Ways di Balai Pemuda Surabaya, KIASMOS di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, serta Art Jakarta Gardens. Pada 2024, ia mengikuti pameran duo Verbatim bersama Gabriel Aries di Art Jakarta, Telapak Sendiri: Tutur Terbelah di Lawangwangi Bandung, Bandung Painting Today di Grey Art Gallery, Art Jakarta Gardens, dan On Form and Narrative di NEO Gallery Jakarta. Sebelumnya, Reggie menggelar pameran tunggal Rorschach and Roll di Gallery Rachel, Jakarta (2012). Karyanya juga pernah dipresentasikan dalam konteks internasional, termasuk di Kuala Lumpur, Selandia Baru dan Australia. Dalam beberapa tahun terakhir, praktik artistiknya semakin mengarah pada eksplorasi antara abstraksi, material keseharian, dan narasi konseptual yang lebih luas. Selain berkarya di studio yang berbasis di Lembang, ia juga terus mengembangkan kemungkinan medium dan pendekatan baru, termasuk ketertarikan pada material non-konvensional sebagai bagian dari wacana seni kontemporer.