
2025|Cat Minyak di Atas Kanvas|200 x 130 cm
Poetic Limbo adalah sebuah seri yang sangat personal, yang merefleksikan pengalaman dan pengamatan saya sebagai seseorang yang dibentuk oleh perpindahan dan konflik. Karya ini mengeksplorasikan ketegangan yang sunyi sekaligus daya tahan para pencari suaka--orang-orang yang terjebak di antara rasa memiliki dan keterasingan, antara harapan dan kehilangan, antara menunggu dan melangkah maju. Di ruang "di antara" ini, saya menemukan semacam puisi yang rapuh, di mana kehidupan tetap berjalan meskipun dilipuri ketidakpastian. Seri ini juga menarik hubungan antara perpindahan manusia dan kehilangan budaya. Seperti halnya manusia yang tercerabut dari akarnya, artefak-artefak Afghanistan yang tercerai-berai akibat puluhan tahun perang kini berada dalam limbo yang serupa: terlepas dari konteksnya, kehilangan makna, dan berbeda di tangan asing. Saya melihat objek-objek ini sebagai saksi bisu, layaknya individu yang membawa kisah-kisah tak terucapkan melintasi batas negara. Melalui adegan-adegan keseharian yang hening dan gema artefak yang hilang. Poetic Limbo menjadi sebuah permenungan tentang bertahan hidup, ingatan, dan identitas. Ia adalah sekaligus tindakan berkabung dan pemulihan--sebuah cara untuk menjahit kembali apa yang telah terpecah, serta menghormati mereka yang hidup dengan martabat di tengah ketidakpastian.
Nesar Eesar, kelahiran Afghanistan, yang kini tinggal dan berkarya di Bandung mempelajari kaligrafi pada masa rezim Taliban, sebelum mendalami seni lukis realistis dan tradisi lukisan miniatur di Kabul. Setelah menyelesaikan pendidikan di Institute of Fine Arts, Kabul, ia memperoleh beasiswa Darmasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (2012–2013), melanjutkan studi sarjana seni di institusi yang sama hingga lulus pada 2017, dan meraih gelar Magister Seni Rupa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2022. Praktik artistik Nesar berangkat dari tradisi lukisan miniatur Herat abad ke-15 yang ia tafsirkan ulang ke dalam format kontemporer. Melalui bahasa visual yang memadukan kaligrafi, ornamen, dan narasi simbolik, ia mengangkat tema perang, pengungsian, migrasi, identitas, serta ingatan kolektif masyarakat Afghanistan. Karyanya menghadirkan refleksi puitis tentang kehilangan, harapan, dan ketahanan manusia. Nesar telah menggelar sejumlah pameran tunggal, antara lain The Eternal Waiting (2022) dan Ambiguous Journey: Poetic Limbo (2023), serta aktif berpartisipasi dalam ARTJOG, Bali Art Moment, ARTSUBS, dan berbagai pameran internasional. Ia merupakan finalis BaCAA 2022, serta pendiri Nesar Art Center (NAC) di Kabul. Nesar berusaha konsisten dengan kerja seninya yang merupakan “ilustrasi simbolik” dari kegetiran para pengungsi dan migran dari Afghanistan, serta menjembataninya dengan wacana seni kontemporer global.