
2025|Cat Akrilik dan Kanvas Laminasi|150 x 150 cm
Bali sebagai mayoritas pemeluk Agama Hindu secara historis tidak terlepas dari kedatangan Majapahit dengan membawa pengaruh tatanan sosial, ritual keagamaan, dan tentunya arsitektur, dalam arsitektur ( pura) yaitu tatanan pura Kayangan Tiga ( pura yang biasanya diusung oleh satu masyarakat satu wilayah Desa dan Sanggah Pamerajan (pura keluarga). Yang menjadi keunikan sekaligus misteri adalah Sanggah di pura keluarga Memiliki beberapa pelinggih (pura kecil yg merupakan bagian dari keseluruhan pura) , salah satunya pelinggihnya dinamakan menjangan seluang yang memiliki keunikan memiliki kepala rusa atau ada beberapa masyarakat yang menggunakan patung rusah keseluruhan. Dalam sejarahnya Pelinggih (pura) Menjangan Seluang merupakan bukti bahwa peran besar pengaruh jawa ( Majapahit) yaitu Mpu Kuturan dari tanah jawa yang mengenalkan aturan upacara agama dan aturan mendirikan bangunan suci Hindu, dan telah dasar spiritual masyarakat Bali yang yang masih dianut sampai saat ini. Kedatangan Mpu Kuturan dianggap telah menyatukan berbagai aliran kepercayaan atau sekte agama yang berkembang saat itu yang dianggap memecah belah persatuan. Bagi masyarakat Bali, sanggah (pura) "menjangan seluang" adalah sebagai simbol ikatan rohani masyarakat Bali dengan tanah Jawa, atau lebih luas lagi ikatan dengan para leluhur Majapahit. Menjangan ( rusa) merupakan simbol kemuliaan sebagai manifest dari Mpu Kuturan yang telah berjasa menata kehidupan sosial keagamaan di tanah Bali.
Made Wiguna Valasara menyelesaikan pendidikan di ISI Yogyakarta. Praktik artistiknya dikenal melalui eksplorasi material, terutama teknik kanvas embos (stuffed canvas), yang memperlakukan kanvas bukan sekadar sebagai bidang gambar, melainkan sebagai objek tiga dimensional. Pendekatan ini membawanya mengembangkan bahasa visual yang memadukan tradisi, materialitas, dan eksperimentasi bentuk. Karya-karya Valasara banyak berangkat dari reinterpretasi seni lukis tradisional Bali, dialog dengan seni Renaisans dan seni modern, serta refleksi atas berbagai persoalan sosial dan budaya di Bali. Melalui eksplorasi tersebut, ia mendorong batas-batas konvensi seni lukis Bali menuju praktik seni rupa kontemporer yang lebih terbuka dan multidimensional. Valasara aktif berpameran di berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara. Pameran tunggalnya antara lain Cosmic Construct di Hong Kong (2023), Carousel di Yiri Arts, Taipei (2022), Collective Fragment di Art Agenda Jakarta (2021), serta Playing Balinese pada Art Stage Singapore (2016), Solo Project di Hong Kong (2015), Animal Behaved di Jakarta dan Bandung (2010). Ia juga berpartisipasi dalam berbagai ajang internasional seperti Sydney Contemporary, Aotearoa Art Fair, Art Taipei, dan Art Tainan. Karyanya memperoleh sejumlah penghargaan bergengsi, termasuk Public Vote Winner Sovereign Asian Art Prize (2020), serta menjadi finalis UOB Painting of the Year dan Indonesia Art Award. Pada 2011, ia mengikuti program residensi di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung.