
2026|Akrilik di Atas Kanvas|180 x 60 cm
Karya ini lahir dari kesadaran sederhana: bahwa manusia sering kali terlalu sibuk mengejar sesuatu di luar dirinya, sampai lupa hadir sepenuhnya di dalam hidupnya sendiri. Figur-figur dalam lukisan ini tidak lagi bergerak karena rasa lapar akan pengakuan, validasi, atau keinginan untuk terus terlihat. Mereka hadir sebagai tubuh yang telah berdamai dengan keberadaannya sendiri—menyadari bahwa hidup tidak selalu harus dipercepat, dibuktikan, atau dimenangkan. Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk menikmati proses-proses kecil yang sebenarnya bermakna. Banyak keputusan diambil dengan tergesa, ambisi tumbuh tanpa jeda, dan hidup dipenuhi dorongan untuk terus mencapai sesuatu. Dalam keadaan itu, saya justru belajar dari perjalanan-perjalanan kecil yang saya lalui setiap hari. Perjalanan menuju tempat kerja selama tiga puluh menit, lalu perjalanan pulang hampir satu jam, menjadi ruang kontemplasi yang perlahan mengembalikan kesadaran saya atas hidup. Di jalan, saya melihat banyak kenyataan: wajah-wajah lelah, orang-orang yang terus bergerak, ketidakpastian, juga kejadian-kejadian kecil yang diam-diam menyentuh batin. Seorang bapak tua yang setiap pagi melambaikan tangan dan tersenyum, sapaan sederhana dari orang yang mungkin tidak saya kenal dekat, kabar baik yang datang tanpa diduga, atau sekadar ucapan “sehat selalu ya” menjadi pengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya keras. Ada energi baik yang terus bergerak di sekitar kita, hanya sering kali tidak disadari karena manusia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang lebih besar. Sebagai pengajar art class untuk anak-anak, saya juga belajar tentang pengendalian emosi dan keberadaan diri. Saya menyadari bahwa energi yang saya bawa setiap hari dapat mempengaruhi orang lain. Karena itu, saya terus berusaha menjaga kestabilan emosi agar tidak menularkan energi negatif kepada anak-anak. Mengajar membuat saya memahami bahwa hadir secara utuh jauh lebih penting daripada sekadar hadir secara fisik. Anak-anak mampu merasakan ketulusan, kesabaran, dan kegelisahan bahkan tanpa kata-kata. Melalui karya ini, saya mencoba memaknai kembali keberadaan, memori, dan proses bangkit dari keterpurukan. Alam dalam lukisan menjadi ruang batin tempat figur-figur menyerap ulang energi positif dan melepaskan kelelahan yang selama ini dipendam. Semakin saya belajar hadir dalam hidup, semakin saya memahami rasa syukur dan keikhlasan. Saya mulai percaya bahwa tidak semua hal harus dikejar dengan rasa lapar. Kadang, manusia hanya perlu berhenti sejenak, bernapas, lalu menyadari bahwa dirinya sudah cukup hadir di dunia ini.
Norma Fauza menyelesaikan pendidikannya di Institut Seni Indonesia, Padang Panjang, kemudian melanjutkan di jurusan Seni Murni, peminatan Seni Lukis, di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Praktik artistiknya berangkat dari pengalaman personal mengenai kehilangan, perpindahan, dan tradisi merantau yang membentuk refleksi tentang identitas, emosi, dan makna kehidupan. Dalam karya-karyanya, Norma menghadirkan figur manusia dalam suasana hening dan kontemplatif. Melalui sapuan warna ekspresif, bentuk figuratif yang terkadang terdistorsi, serta garis-garis spontan, ia merekam dinamika emosi, ingatan, dan relasi antar manusia. Baginya, tubuh bukan sekadar representasi fisik, tetapi ruang yang menyimpan pengalaman hidup dan perubahan batin yang terus berlangsung. Selain berkarya sebagai perupa, Norma aktif mengajar seni untuk anak-anak. Pengalaman tersebut memperkaya proses kreatifnya sekaligus memperdalam perhatian pada kehadiran, kesadaran, dan kepekaan emosional. Ia terus mengembangkan praktik seninya melalui berbagai pameran, antara lain Keep the Fire On (2023), Tjoekoep, Tjokoekoep, Tjoekoep (bersama ISSI), Yogyakartra (2024), Buka (bersama komunitas Sakato), Yogyakarta (2025), Guru dan Murid (bersama Yayasan rumah Das, Yogyakarta (2025), Marandai Pajang (bersama komunitas Sakato), Yogyakarta (2025), Nature Everyday Life and Glimpses of the Past, Singapore (2025), Rupa Cara Keberadaan di Semarang Gallery, Beyond Universe di La Palapa Art, Jakarta, dan HER: Ways of Seeing di Via Via Gallery, Yogyakarta (2026).