
2026|Akrilik di Atas Kanvas|80 x 140 x 5 cm
Masyarakat nusantara terutama Jawa sudah memiliki tradisi musik sejak lama. Musik sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Hindu-Buddha bahkan sejak masa kerajaan kuno. Fungsinya pun beragam seperti pengiring acara ritual keagamaan, perayaan panen, tradisi pernikahan hingga penyambutan tamu kerajaan. Hingga kemudian terjadinya peralihan penyebaran agama islam di utara pesisir jawa yang dilakukan oleh wali songo (sembilan wali) yang menjadi tonggak berdirinya kerajaan Demak. Proses media penyebaran dan dakwah pun dari setiap walisongo sangat berbeda-beda.salah satunya ialah melalui musik yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Musik dipilih karena pada masa itu masyarakat Jawa sudah menyukai musik sejak lama, jadi masyarakat lebih mudah menerima pesan melalui musik yang sudah mereka sukai. Salah satu musik yang diciptakan sunan kalijaga ialah, lagu Lir-ilir dan Turi Putih. Kedua lagu ini banyak mempunyai makna yang menarik di setiap liriknya. Berikut merupakan potongan lirik dalam lagu lir- ilir yang berbunyi: "Lir ilir, lir ilir” (ngelilir) yang artinya "Bangunlah, bangunlah" sebutan di jawa pesisir untuk terbangun atau terjaga ditengah malam atau dalam artian ajakan untuk beribadah di waktu subuh. “Tandure wus sumilir” yang artinya "Tanaman sudah mulai tumbuh dan tertiup angin" iman atau kebaikan dalam diri sudah mulai tumbuh mari dijaga dan dikembangkan "Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi” yang artinya ""Anak gembala (manusia biasa) panjatlah pohon belimbing (buah dengan 5 sisi sperti bintang sebagai simbol 5 rukun islam,5 waktu sholat)" “Lunyu-lunyu penekno", kanggo mbasuh dodotiro” yang artinya “Walaupun licin, tetap panjat untuk mencuci pakaianmu" meskipun ibadah itu sulit, tapi tetaplah berusaha agar bisa membersihkan diri dari dosa. Begitu juga dengan lagu turi putih berikut salah satu liriknya: “Turi putih, turi putih” yang artinya "Bunga turi yang berwarna putih" Melambangkan kesucian juga sering dikaitkan dengan bentuk dan warna kain kafan (kematian) yang menyerupai bunga turi. “Ditandur neng kebon agung" yang artinya "Ditanam di kebun yang luas" ditandur dalam artian prosesi kematian umat islam yang dikubur (atau dikebumikan) di alam raya yang sangat luas ini. "Ono cleret tibo nyemplung” yang artinya "Ada kilat jatuh tiba-tiba" Kematian datang tiba-tiba Tidak bisa diprediksi “Mbok iro kembange opo” yang artinya "Menurutmu bunganya apa?" Pertanyaan untuk diri sendiri, Amal apa yang kita bawa? Dari setiap lirik lagu lir-ilir maupun turi putih, sunan kalijaga sangat peka melihat keadaan sekitar masyarakat utara pesisir pada masa itu. Pemilihan objek tanaman seperti belimbing dan bunga turi yang tumbuh di sekitar pesisir demak, merupakan bagian dari keistimewaan dari Sunan Kalijaga untuk menyederhanakan bahasa dakwah menjadi lebih halus dan mudah dimengerti. Pemaknaan belimbing dan bunga turi bukan hanya sekedar tanaman, namun diksi kata indah yang terhubung melalui lagu sebagai menyampaikan pesan moral yang sangat baik. Sadar atau tidak, lirik dari lagu lir -ilir dan turi putih yang diciptakan pada abad 15-M mempunyai permasalahan yang hampir sama dengan hari ini yaitu, mengingatkan tentang memperbaiki diri. Hal ini tentu menjadi sangat penting, karena di masa sekarang permasalahan dari bangsa kita ialah sibuk untuk mengoreksi orang lain, namun lupa untuk mengintropeksi diri. Hingga hari ini lagu lir-ilir dan turi putih merupakan bagian dari saksi kekuatan (power) identitas seni lisan, yang hadir di pesisir utara jawa secara turun-temurun yang mengiringi di berbagai sarana pendidikan usia dini hingga akhir. Hingga hari ini banyak dinyanyikan oleh anak-anak hingga orang dewasa, dan di cover ulang para penyanyi profesional. Lagu ini menyadarkan kita bahwa kekuatan keistimewaan karya seni entah melalui lagu atau media apapun yang sederhana, ada kekuatan magis yang terhubung mengiringi di setiap zaman. lagu lir-ilir dan turi putih, menjadi bagian dari akulturasi antara seni, budaya, dan ajaran hidup yang masih terjaga hingga hari ini.
Tri Julianto menyelesaikan pendidikan Seni Rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Praktik artistiknya berangkat dari pengalaman hidup di Demak, sebuah kota di pesisir utara Jawa yang menyimpan kekayaan tradisi sekaligus menghadapi berbagai persoalan sosial dan lingkungan. Melalui karya-karyanya, Tri berupaya merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat pesisir, perubahan lanskap, serta hubungan antara manusia, ruang, dan ingatan kolektif. Baginya, seni merupakan medium untuk menyuarakan pengalaman lokal sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun masa depan yang lebih baik bagi kampung halamannya.”Saya ingin menjadi bagian terkecil dari pondasi proses menuju Demak untuk lebih baik,” ujarnya. Karya-karyanya menghadirkan dialog antara realitas sosial dan refleksi personal, sehingga mengundang penonton untuk melihat kembali relasi antara identitas, tradisi, dan perubahan yang berlangsung di wilayah pesisir utara Jawa. Konsistensi eksplorasi tersebut membawanya terpilih sebagai finalis UOB Painting of the Year kategori Emerging Artist pada tahun 2023 dan 2025. Selain itu karya Tri juga digelar dalam pameran 1ST GREY Annual Award di Bandung (2023 dan 2026), Art Jakarta Paper (2026) dan finalis ORASIS Art Prize Surabaya (2026). Pada tahun 2026, ia menggelar pameran tunggal bertajuk Membangun Rumah di Utara Pesisir di Yogyakarta yang memperdalam eksplorasinya mengenai memori, ruang hidup, dan transformasi lingkungan pesisir sebagai bagian dari pengalaman kolektif masyarakat Demak.